Dengan adanya tingkat pengangguran dan kehilangan pekerjaan yang tertinggi dalam beberapa dekade belakangan ini di seluruh penjuru negeri, banyak pekerja merasa senang jika mereka setidaknya masih bisa dipekerjakan. Apa yang biasanya mereka abaikan adalah mengenai masalah kesehatan.

Satu dari tiga pekerja memiliki sedikitnya satu gejala depresi; 41% berkata bahwa mereka kadang-kadang, sering, atau sangat sering merasa tertekan; dan satu dari lima orang mengalami kesulitan tidur. Secara keseluruhan, 14% memiliki tingkat kolesterol yang tinggi dan satu dari lima orang memiliki obat penurun tekanan darah tinggi.

Faktanya, menurut sebuah laporan yang dilepas oleh sebuah perusahaan riset nirlaba, Families and Work Institute (FWI), persentase pekerja yang berkata bahwa mereka memiliki kesehatan yang prima telah menurun dari 34% tahun 2002 menjadi 28% di tahun 2008. Ellen Galinsky, presiden dan pendiri FWI berkata, "Ketika kita mencoba untuk menjelaskan apa yang terjadi [sejak tahun 2002], ini bukan jawaban yang mudah -- yaitu bahwa penduduk yang lebih tua dan lebih muda memiliki kesehatan yang lebih baik. Terdapat sebuah perubahan diantara pria dan pekerja berpenghasilan lebih tinggi [dalam kaitannya dengan] ketidakpastian disekitar ekonomi dan semakin besarnya tekanan yang orang rasakan dalam mengatur kehidupan kerja dan keluarga mereka."

Beberapa tempat kerja lebih sehat dibandingkan lainnya

Tidak semua tempat kerja itu sama jika menyangkut tentang kesehatan. Faktanya adalah, 38% dari pekerja tempat tertentu -- dalam laporan disebut dengan tempat kerja "efektif" -- lebih besar kemungkinannya untuk berkata bahwa mereka dalam kondisi kesehatan yang prima. Dan sebaliknya, hanya 19% pekerja yang tempat kerjanya memiki nilai keefektifan rendah memiliki kesehatan yang prima.

Jadi apa yang membuat sebuah tempat kerja itu dikatakan efektif? Galinsky berkata bahwa ada enam faktor yang membuat perbedaan. Pekerja dapat merasa lebih sehat jika mereka bisa mendapatkan "pembelajaran tentang peluang dan tantangan, sebuah keserasian yang baik antara kehidupan pribadi dan pekerjaan, otonomi, memiliki seorang pengawas yang mendukung keberhasilan kerja, keamanan ekonomi (penting untuk situasi sekarang ini) dan lingkungan kerja yang saling menghargai dan mempercayai."

Eric Endlich, PhD, seorang psikolog dari Massachusetts yang punya spesialisasi dibidang kesehatan di tempat kerja berkata bahwa faktor-faktor ini bisa membuat orang merasa dapat mengendalikan nasib mereka, tertantang tapi tidak tertekan, dan dihargai. "Jika seseorang mengalami stres pada salah satu faktor, maka mereka akan memiliki detak jantung dan tekanan darah yang lebih tinggi. Dan jika ini terjadi secara kronis maka itu dapat memperburuk kondisi yang sudah ada."

Perasaan kurangnya pengendalian dalam tempat kerja atau tidak merasa mendapat dukungan yang cukup dari seorang pengawas dapat menyebabkan perasaan tak berdaya dan pada akhirnya bisa berubah menjadi depresi, "yang mana dikaitkan dengan banyaknya penurunan kualitas kesehatan dan meningkatnya jumlah kematian."

Menurut laporan, salah satu alat prediksi yang paling nyata terhadap perasaan sehat adalah keseimbangan antara kehidupan pekerjaan dengan kehidupan pribadi. "Jika seseorang megalami kesulitan dengan keseimbangan ini maka mereka akan mengalami kesulitan untuk apa saja, termasuk mendapatkan komponen gaya hidup sehat seperti mendapatkan waktu tidur yang cukup, berbelanja dan mempersiapkan makanan sehat, dan berolah raga."

Dalam ekonomi yang keras ini, banyak pemberi kerja merasa bahwa mereka tidak punya pilihan tetapi sebenarnya ada beberapa pilihan yang bisa dilakukan. Sebagai contoh, periset menemukan bahwa pekerja yang dibayar untuk hari tidak masuk akibat sakit dan dibayar lebih untuk hari libur, dilaporkan memiliki kesehatan yang lebih baik. Meskipun pilihan-pilihan ini mengakibatkan pengeluaran tambahan bagi pemberi kerja, tetapi ada pilihan-pilihan lain yang bisa pemberi kerja lakukan -- seperti mempromosikan sebuah lingkungan kerja yang saling menghargai -- untuk menjadikan tempat kerja menjadi lebih efektif. Galinsky berkata, "Penting untuk mengetahui bahwa memiliki tempat kerja yang efektif tidak [harus] membebani keuangan. Ini hanyalah merupakan bagaimana cara saling memperlakukan satu sama lain."

Galinsky menyatakan bahwa atasan yang tidak mampu menawarkan tambahan hari libur seharusnya bisa mengandaikan dirinya berada dalam posisi karyawan, dan bayangkan bagaimana pekerja itu diperlakukan. Ia bisa mengajak para manajer untuk berbicara tenang, menghargai pekerja dan menerapkan keluwesan yang lebih besar untuk menolong mereka dalam mengatur kehidupan pribadi mereka.

Endlich berkata bahwa mengijinkan pekerja untuk bekerja lebih awal atau nanti bahkan bisa menguntungkan perusahaan, sebagai contoh, dengan memperpanjang jam-jam bisnis atau produktivitas setiap hari. Mensurvei pekerja dan mendengarkan saran-saran mereka juga bisa menolong, yang mana dapat mendukung perasaan pengendalian dari karyawan.

Karyawan sendiri seharusnya juga bertanggung jawab. Survei menyatakan bahwa hampir 50% pekerja tidak berolah raga secara teratur, dan 25%-nya merokok. Pada tahun 2002, 21% pekerja mengalami kegemukan, dan pada tahun 2008 jumlah itu meningkat hingga 28%. Jadi bertanggung jawab terhadap kesehatan di luar tempat kerja adalah awal yang bagus untuk memulainya.

Galinsky berkata bahwa gambaran tentang kerja itu seperti pelari maraton yang selalu berlari dan tidak pernah berhenti. Ini bisa menyebabkan masalah fisik yang lazim dialami oleh banyak pekerja Amerika. Gambaran pekerjaan seperti atlit angkat berat itu lebih baik karena memiliki beberapa waktu untuk istirahat dan rileks.

Survei di atas diperbaharui setiap lima tahun, dan melibatkan 2,800 pekerja yang dibayar secara per jam.

 

Sumber: Sarah Klein

Loading...

1000 Characters left